Minggu, 31 Oktober 2010

Brussel, The Capital of Europe

Kesempatan,..... untuk travel datang tiba-tiba di tengah jedah  antara dua modul Epidemiology dan Statistik. Discount Ticket dari Eurolines memungkinkan perjalanan pulang pergi Amsterdam Brussel hanya berharga 29 Euro (+/- 330.000). Dan dimulailah perjalanan di hari Sabtu pagi yang dingin. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 06.00 tapi hari masih sangat gelap. Dari dormitory membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai ke Amstelstation tempat bus ke Brussel akan berangkat. Dengan Tram kami harus berhenti di Weijtenbachstraat sebelum pindah ke bus kota yang menuju Amstelstation. Jam 7 tepat tiba di Eurolines counter amstelstation dan langsung Check-in, setengah jam kemudian kami sudah diatas jalan tol A9 mengarah ke Rotterdam. Setengah jam mampir di Rotterdam untuk mengangkut penumpang dari kota ini, bus langsung melanjutkan perjalanan ke wilayah Belgia.

Sepanjang perjalanan warna-warna musim gugur menghiasi pepohonan di sepanjang jalan. Memasuki wilayah Belgia, bus menyempatkan waktu untuk mengisi bahan bakar sekitar 15 menit...kemudian perjalanan kembali dilanjutkan.
Kota utama Belgia yang pertama terlihat di batas Cakrawala adalah Antwerp .


Setelah 3 jam setengah perjalanan sampailah kami di Gare du Noord atawa Stasiun Utara Brussel. Kesen pertama station ini terbengkalai dan tidak tertata dengan baik. Tapi lingkungan di sekitar stasiun ini adalah Brussel versi modern dengan pencakar langitnya.
Keluar dari Gare du noord, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju sentral Brussel melewati Rue Verta sempat tersesat di Rogierstraat, akhirnya kami sampai di Rue des Palais/Koningstraat, sempat melintas sebuah tram kuno di Brussel. Akhirnya sightseeing pertama di Brussel nampak di depan kami. Gereja Santa Maria.


Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Koningstraat dan sampailah kami di Jardin Botanique Garden. Tempat ini dulunya adalah kuburan dari korban penyakit Pes yang membawa petaka bagi benua Erupa dimana hampir sepertiga penduduk Eropa meninggal akibat penyakit ini.
 Taman ini dipenuhi oleh patung hasil karya dari pemahat terkenal Belgia. Taman in dibuka untuk umum sejak tahun 1870. Selain patung terdapat juga air mancur dan barisan tetumnbuhan yang terawat dengan rapi. Keluar dari taman ini rombongan sudah ingin sekali sampai di Grand Palace, tapi kemampuan membaca peta kayaknya agak lemah sehingga kemampuan bertanya harus diandalkan. Meminta petunjuk dari warga lokal, akhirnya kaki melangkah menelusuri Pachecholaan kemudian dilanjutkan ke Boulevard de Berlaimont, dan setelah melewati Bangunan Bank Nasional Belgia, terpampanglah didepan kami Katedral van St. Michael dan St Gabriel.
Masih penasaran dengan Grand Palace, kaki cepat-cepat diarahkan melewati Bergstraat dan kemudian Heuvelstraat. Di wilayah ini mulai terlihat padat oleh manusia, tandanya dari tourist sudah di depan mata, setelah berjalan lebih 10 menit akhirnya tibalah kami dilapangan ini.
Lapangan ini dibentuk oleh dua bangunan utama yakni . Brussel Town Hall dengan menaranya yang setinggi 96 meter, dipuncak menara ini terdapat patung setinggi 3 meter  St Michael membantai Iblis. Bangunan ini berasal dari abad ke 13 didirikan oleh Duke of Brabant, didirikan untuk menaungi 3 pasar utama yang ada disekitar lapangan ini agar pada saat cuaca dinginpun tetap terlidungi. Tetapi maksud lainnya adalah supaya sang Duke dapat mengawasi para pemungut pajaknya.
Kemudian di depan bangunan ini terdapat  Maison du Roi (King Palace), orang Belanda menyebutnya Broodhuise karena memang didirikan dibekas pasar Roti, nama King Palace sebenarnya berlebihan untuk bangunan ini, karena tidak pernah ada raja yang tinggal di bangunan ini. Bangunan ini didirikan oleh para pedagang Brussel yang lain untuk menyaingi Brussel Town Hall yang ada didepannya.
Selesai menikmati Grand Palace yang memikat ini, kami harus bergegas untuk mencari satu lagi landmark dari Brussel yang terkenal yakni Maneken Pis. Setelah bertanya kepda seorang Polwan yang agak tegang, kami diarahkan untuk melewati Karel Bullstraat disamping Brussel Town Hall. Memasuki jalan ini terdapat sebuah panorama menarik.

  Diorama diatas adalah Everard Serclaes pahlawan yang gugur membela Brussel pada abad ke 14. Walaupun berbau superstisius tapi penduduk Brussel percaya bahwa dengan menyentuh patung perunggu ini akan membawa keberuntungan pada penyentuhnya. Jalan Karl Buls ini didekasikan untuk mengenang walikota dari Brussel pada abad 19 yang menerbitkan aturan bahwa semua Polisi Brussel harus bisa berbahasa Perancis dan Belanda. Perlu diketahui negara Belgia terbagi dalam dua wilayah, yakni utara dimana penduduknya berbahasa Belanda dan Selatan dengan Perancis sebagai bahasa utama. Pada awal-awal berdirinya Brussel banyak terjadi perpecahan akibat perbedaan ini. 
Setelah melewati Karl Bulsstraat kami memasuki Rue de 'Etuve dan inilah yang terlihat pertama kali;
Ya, Tintin dan Kapten Haddock adalah dua toko komik kebanggan Brussel karena pertama kali diterbitkan di kota ini, dan kisah pertamanya juga tentang kota ini. Kembali ke perjalanan, kami akhirnya berhasil menemukan Maneken Pis.
Manneken Pis  secara harafiah artinya anak kecil yang lagi kencing bahasa Perancisnya le Petit Julien, merupakan landmark dari Brussels , seperti halnya Eifel di Paris, patung ini terbuat dari perunggu dan hanya setinggi 61 cm, di rancang oleh Jerome Duquesnoy dan diletakkan pada tempatnya sekarang di old fountain sejak tahun 1618 atau 1619. Lokasi patung ini berada di persimpangan  Rue de l'Étuve/Stoofstraat dan Rue du Chêne/Eikstraat
Cerita di belakang patung inilah yang membuatnya terkenal,  cerita yang paling terkenal adalah bahwa patung ini di inspirasi oleh Duke Godfrey III of Leuven. Pada 1142, pasukan dari tuan tanah yang baru berumur 2 tahun ini berperang melawan pasukan dari Berthouts, tuan tanah dari Grimbergen. Pasukannya meletakkan tuan tanah belia ini dikeranjang dan menggantung keranjang itu di atas pohon untuk menyemangati mereka. Dari atas pohon ini si tuan tanah mengencingi pasukan dari Berthouts, yang akhirnya menyerah kalah
Cerita lainnya adalah , pada suatu saat di abad 14 Brussel dalam keadaan siaga karena dikepung oleh pasukan asing. Kota ini tetap bertahan  untuk sementara dan penyerang berencana meledakkan dinding kota dengan meletakkan mesiu dibawah dinding kota, seorang anak bernama Julianske yang ditugasi menjadi mata-mata mengencingi mesiu ini dan menyelamatkan kota ini. Pada tahun 1388 patung yang sama dibuat dari batu , tetapi patung ini beberapa kali dicuri. Akhirnya pada tahun 1619 patung ini digantikan patung perunggu seperti yang ada sekarang.

Patung ini dikenakan kostum beberapa kali dalam seminggu, dan tema kostumnya disesuaikan dengan jadwal yang digantung di railing patung ini. Pakaian patung ini sudah berjumlah ratusan dan bahkan ada kostum yang berasal dari jaman ketika patung ini pertama kali dibuat. Ada tempat khusus bagi kostum patung ini di dalam Grand Palace  di depan town Hall. Setiap kali akan menggenakan kostum biasanya diadakan pesta yang meriah dengan diiringi musik dan dansa. Pada saat kunjungan saya tema kostumnya adalah summer beach dengan papan snowboarding yang melengkapinya. Tema kostumnya sangat bervariasi dari mulai profesi, olahragawan, militer dll.
Tercatat patung ini telah dicuri sebanyak 7 kali tetapi ditemukan kembali, yang terakhir pada abad 20 dilakukan oleh seorang mahasiswa dari desa Broxeele, yang mempunyai kesamaan etimologi dengan Brussels.
Di dekat manekken pis ini saya sempat wisata kuliner dengan mencicipi sedikit kudapan ..Escargos yang terbuat dari Siput Laut. Rasanya seperti Sup Ikan tetapi yang menonjol adalah rasa black pappernya.
Melanjutkan perjalanan kali ini kami melintasi Royal Galerie St Hubert. Tempat Window Shopping di dekat Grand Palace , harga barang-barangnya ..wow...
Selanjutnya kami mendaki jalan Infante Isabelle untuk menuju Koningsplein, tempat yang sempat dijanjikan oleh salah satu penduduk lokal Belgia sebagai lokasi yang fantastik untuk menyaksikan lowerpart dari Brussel . Brussel adalah kota berbukit sehingga dibagi dua bagian lower dan upperpart. Koningsplein terdapat di wilayah atas.
Ditaman ini terdapat patung dari para penguasa Belgia di jaman dahulu, yakni Queen Elizabeth of Belgium dan King Albert I.
Di puncak dari Koningsplein inilah kita dapat menyaksikan pemandangan lower part dari Brussel.

 Hari sudah menjelang senja dan kami sudah harus bergegas kembali ke Gare du Noord karena bus yang akan membawa kembali kami ke Amsterdam akan berangkat jam 6 sore, tapi masih ada satu monumen lagi yang harus dikunjungi yakni Kongres Column
 Congress column terletak Rue Royale didirikan untuk meresmikan berdirinya Kongress Belgia pada tahun 1850, terinspirasi oleh bangunan yang sama di Roma yakni Trajancolumn. Tiang ini setinggi 49 meter diatasnya terdapat patung Raja Leopold I dari Belgia. Dibawah monumen ini terdapat api abadi untuk mengenang para pejuang Belgia yang gugur selama Perang Dunia ke 2. Foto dibawah adalah di persimpangan Koningsstraat dan Place due Palais .bagian sebelah kanan adalah Istana resmi raja Belgia yang terkini Albert II sebelah kiri adalah Brussel park.

Demikian kunjungan singkat ke Brussel yang juga Ibukota dari Uni Eropa, masih ada beberapa tempat yang belum terkunjung seperti Atomium dan Mini europe yang ada di kaki Atomium, kedua tempat ini berada di bagian rural Brussel sehingga agak sulit dikunjungi untuk sebuah daytrip.  Yang agak menyedihkan dari kota ini adalah Pengemis, Grafiti dan bangunan yang terbengkalai. Pengemis di Brussel kebanyakan adalah Imigran dari Afrika Utara sangat agresif bahkan seperti di Jakarta mereka juga mengemis di Traffic Light. Banyaknya bangunan terbengkalai juga menandakan kemunduran perekonomian dari negara ini. Secara keseluruhan perjalanan senilai 42,5 Euro in (29 tiket, 3.5 wisata kuliner, 5 souvenir, 5 untuk lunch) (+/- 450 ribu rupiah) sangat memuaskan. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, yang mungkin akan melintasi Jerman..